• Pencipta
    Topik Pertanyaan
  • #12390

    Masa pandemi Covid-19 yang sulit diprediksikan tentang keberakhirannya, tanpa tersadari banyak menimbulkan perubahan dalam kehidupan. Termasuk dalam kehidupan dunia pendidikan tanah air. Bisa dipastikan ditengah kebijakan pemerintah terkait jaga jarak sosial, maka proses pembelajaran daring merupakan suatu langkah maju yang tidak bisa terhindari. Semua itu, tentu demi terus keberlangsungan suatu proses belajar dan mengajar di negeri ini. Sejak Maret 2020 untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19, aktivitas pembelajaran daring diberlakukan dan menimbulkan banyak polemik. Di lapangan ditemui berbagai masalah seperti mahalnya biaya kuota internet, kegiatan belajar mengajar digelar secara terpisah melalui berbagai aplikasi, hingga minimnya kemampuan orangtua untuk bekerja sama dalam pendampingan pembelajaran.
    Di kota besar, proses mengadaptasi sesuatu yang baru tidak memerlukan waktu yang lama karena para pendidiknya sudah terbiasa juga dengan belajar hal yang baru secara mandiri . Tapi, proses ini tidak bisa terjadi pada semua sekolah karena pada kenyataannya kapasitas sekolah itu beragam dan tingkat maturity dalam mengadopsi teknologi pun beragam. Jadi, dalam kondisi pandemi ini sebetulnya fenomena yang kita lihat bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kesenjangan. Lihatlah, ada anak- anak yang bisa mendapatkan akses dengan mudah tanpa ada sekolah pun bisa digantikan oleh teknologi atau sumber belajar yang ada di sekolah. Tetapi di lain tempat ada juga anak-anak yang sama sekali tidak bisa mendapatkan aksesitu.
    Sebelum negeri ini terkena dampak wabah COVID-19, kondisi peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berdasarkan survei 2018 berada di urutan bawah. PISA sendiri merupakan metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Jadi adanya gangguan wabah Corona perlu upaya yang lebih untuk memperluas jangkauan pemerataan pendidikan di Tanah Air. Termasuk pemerataan kualitas SDM guru, pembiayaan operasional sekolah, dan mengembangkan local wisdom. Lebih dari itu, kurikulum pendidikan harus bisa menjadi rujukan pedagogik, yang mudah diimplementasikan oleh para guru baik yang di perkotaan hingga pelosok desa. Sehingga negeri ini bisa mengejar ketertinggalan peringkat di PISA.

    Analisislah permasalahan pada kasus tersebut!

Jawaban :

  • Anda harus log masuk untuk menambahkan jawaban.